SOSIALISASI THALASEMIA STIKES DHB

SOSIALISASI THALASEMIA STIKES DHB

Sabtu 10/21/2012 Pemerintah Kota  Bandung bersama dengan Yayasan Thalasemia Indonesia  dan STIKes Dharma Husada Bandung menyatakan sepakat untuk bergerak bersama mengupayakan memutus mata rantai penyakit thalasemia dengan melakukan sosialisasi thalasemia ke pada 300 mahasiswa STIKes DHB yang bertempat dibalai kota Pemkot Bandung.

Sosialisasi tersebut tidak hanya pengenalan penyakit genetik itu saja, tetapi juga mengajak para siswa untuk mau melakukan pemeriksaan darah.

“Dengan mengecek apakah mereka memiliki pembawa sifat thalasemia melalui ‘screening’ darah ini sangat baik dilakukan sedini mungkin,” ujar Iman Selaku Ketua Yayasan Thalasemia Indonesia Kota bandung.

“Jadi sebelum terlambat dan terlanjur memilih pasangan, lebih baik mereka mengetahui apakah mereka atau pasangan mereka memiliki gen pembawa sifat thalasemia,” jelas Iman.

Dr. Erlina Kartasubrata menyampaikan materi tentang Thalasemia

Dr. Erlina Kartasubrata menyampaikan materi tentang Thalasemia

Dalam acara tersebut juga diberikan pemaparan tentang thalasemia yang disampaikan oleh Dr. Erlina Kartasubrata, menurut beliau Thalasemia adalah penyakit genetis, yang akan didapatkan oleh anak yang kedua orang tuanya pembawa gen thalasemia. Pembawa gen tidak menunjukkan ciri khusus, yang hanya bisa diketahui dengan tes darah khusus. Anak penderita thalasemia harus menjalani cuci darah SEUMUR HIDUP, dan kondisi ini belum bisa diobati.

Pencegahan yang paling mudah dan murah adalah dengan cara mencegah pernikahan antara 2 orang yang membawa gen thalasemia. Keberadaan gen thalasemia dapat dideteksi dengan screening / tes darah yang akan diadakan pada saat sosialisasi tersebut. Setiap orang yang sudah melakukan tes darah akan diberi kartu penanda apakah dirinya membawa gen thalasemia atau tidak

Testimoni Nia, seorang perempuan yang mengalami Thalasemia Mayor sejak umur 6 bulan

Testimoni Nia, seorang perempuan yang mengalami Thalasemia Mayor sejak umur 6 bulan

Peserta juga diberikan kesempatan untuk mendengarkan testimoni langsung dari narasumber yang sudah positif mengalami Thalasemia, seorang peremuan yang akrab dipanggil Nia ini menceritakan, bahwa Nia sudah sejak umur 6 bulan divonis menderita thalasemia sampai sekarang berumur 23 tahun dia menjalani transfursi darah setiap dua minggu sekali dengan biaya rata-rata delapan juta perbulan. Dengan kondisi perekonomian Orang tua yang rendah ditambah kondisi fisik  yang setiap hari semakin menurun, Nia mengajak kepada seluruh peserta yang hadir khusunya mahasiswa STIKes Dharma Husada untuk melakukan Skrining sebelum menentukan calon pasangan hidup atau Bobogohan (Pacaran) istilah yang diungkapkan Nia supaya kedepannya cukup Nia saja yang mengalami penderitaan hidup dengan perjuangan menghadapi penyakit thalasemia.

Sambutan Walikota Bandung H. Dada Rosada

Sambutan Walikota Bandung H. Dada Rosada

Walikota Bandung yang hadir ditengah-tengah acara menyempatkan memberikan sambutan sekaligus himbauan bahwa  penderita thalasemia di Kota Bandung berjumlah 300 orang yang terdaftar di Rumah Sakit Hasan Sadikin dan dari sekian ada 223 orang diantaranya memiliki identitas asal Bandung. Menurutnya, penderita thalasemia harus terus mendapatkan transfusi darah setiap bulan seumur hidupnya dan untuk setiap kali transfusi darah, pasien thalasemia harus mengeluarkan dana sekitar Rp 8 juta.

Karena dinilai penyakit yang sangat merugikan secara ekonomis dan membahayakan, Dada Rosada mengimbau agar seluruh warga Kota Bandung untuk memeriksakan diri, terutama bagi pasangan yang akan menikah. Walaupun sekarang Pemerintah sudah menyediakan anggaran untuk bantuan bagi penderita thalasemia tetapi Dada menyampaikan bahwa kemampuan pemerintah sangat terbatas karena penderita harus menjalani pengobatan seumur hidup ditambah jumlah penderita thalasemia semakin bertambah tiap tahunnya.

Penandatanganan MoU Antara STIKes DHB bersama Yayasan Thalasemia Indonesia Kota Bandung, disaksikan langsung Walikota Bandung H. Dada Rosada

Penandatanganan MoU Antara STIKes DHB bersama Yayasan Thalasemia Indonesia Kota Bandung, disaksikan langsung Walikota Bandung H. Dada Rosada

Pada akhir acara, STIKes Dharma Husada yang diwakili Oleh Puket II Bidang Administrasi dan Keuangan bersama Yayasan Thalasemia Indonesia Kota Bandung, Iman Teja Rahmana. yang disaksikan langsung oleh Walikota Bandung Dada Rosada dan Kepala Dinas Pendidikan Kota Bandung. Menandatangani MoU sebagai komitmen bersama dan kerjasama berkelanjutan untuk seluruh mahasiswa STIKes DHB melakukan Screening Thalasemia agar harapan memutus mata rantai Thalasemia bisa terwujud.

 

SOSIALISASI THALASEMIA STIKES DHB

Biografi Penulis

5 Komentars

  1. pipin ramdani - December 9, 2012

    Min……..Trims atas expose tentang hal yg berhubungan dg thalassaemia. Ralat dikit ya… Kalau perawatan penderita Thalassaemia “cuma” transfusi darah,bukan cuci darah (yg cuci darah biasanya yg hemodialisa),plus tiap hari harus mengkonsumsi obat kelasi besi,yg harganya……buji buneeeeeng….mahal sekali Bro….. trims ya atas exposenya…..melalui upaya ini semoga masyarakat dapat lebih mengenal dan tanggap dg bahayanya peningkatan penderita thalassaemia baik dipandang dari sisi kualitas hidup penderita maupun dari sisi ekonomi………

Berikan Komentar