SETELAH VAKUM, DI GAGAS KEMBALI PEMBENTUKAN RAPPI JAWA BARAT

SETELAH VAKUM, DI GAGAS KEMBALI PEMBENTUKAN RAPPI JAWA BARAT

SETELAH VAKUM, DI GAGAS KEMBALI PEMBENTUKAN RAPPI JAWA BARAT

Selasa 27 Juni 2012 Pokja
kebidanan yang bersekretariat di kampus STIKes Dharma Husada Bandung
menyelenggarakan Seminar Kesehatan Nasional dengan tema “ Remaja Berkarya
Melalui Pembentukan RAPPI ”. kegiatan ini rencananya bukan hanya seminar tetapi
juga akan dilanjutkan dengan pembentukan Remaja Aliansi Pita Putih (RAPPI) Jawa
Barat yang akan di tandatangani oleh semua perwakilan tiap kampus yang hadir mengikuti
acara tersebut.

Acara dibuka langsung oleh Ketua POKJA Kebidanan PTS Jawa barat yaitu Dr. Hj. Suryani Soepardan, Dra., MM. lalu selanjutnya memasuki acara yang pertama adalah penyampaian materi dengan  tema “penggerakan Masyarakat untuk hidup Sehat “, oleh Hj. Netty Prasetiyani Hermawan, M.Si. selaku Ketua Penggerak Pkk dan juga Istri Gubernur Jawa Barat.

Dalam konteks ketika kita bicara
remaja, mungkin kita selalu identik dengan dekandensi moral, krisis
kepemimpinan, narkoba dan banyak hal lain lagi yang menjadi stigma negative yang
selalu melekat pada perkembangan remaja di era globalisasi ini. Tetapi seiring
berjalanya perkembangan tersebut, ternyata masih banyak para remaja khusunya
mahasiswa kesehatan yang sedang menempuh jenjang pendidikan kesehatan mempunyai
inisiatif yang tinggi terhadap permasalahan yang sering muncul dimasyarakat. Salah
satunya dengan adanya pembentukan Remaja Aliansi Pita Putih Indonesia (RAPPI)
Jawa Barat, sebagai salah satu komunitas kepanjangan tangan organisasi Aliansi
Pita Putih Indonesia (APPI)/ White Ribbon
yang aktif dalam gerakan sosialisasi kampanye safe motherhood atau penurunan angka kematian ibu (AKI).

Remaja Aliansi Pita Putih ini
nantinya setelah dibentuk akan diarahkan kepada permasalahanyang berhubungan
dengan penyebab kematian ibu. Dalam hal ini yang termasuk kepada kategori ibu
tidak hanya umurnya yang sudah tua saja, tetapi dalam kenyataan sekarang ini
banyak remaja yang dibawah usia atau dikatakan sebagai remaja yang terlalu muda
sudah melakukan perkawinan dini. Permasalahan yang muncul dari pernikahan dini
adalah meningkatnya juga angka kematian ibu yang terlalu muda (remaja) karena
ketidaksiapan kondisi fisik.

Menurut hasil Pernikahan usia
dini telah banyak berkurang di berbagai belahan negara dalam tigapuluh tahun
terakhir, namun pada kenyataannya masih banyak terjadi di negara berkembang terutama
di pelosok terpencil. Pernikahan usia dini terjadi baik di daerah pedesaan
maupun perkotaan di Indonesia serta meliputi berbagai strata ekonomi dengan
beragam latarbelakang.

Berdasarkan Survei Data
Kependudukan Indonesia (SDKI) 2007, di beberapa daerah didapatkan bahwa sepertiga
dari jumlah pernikahan terdata dilakukan oleh pasangan usia di bawah 16 tahun.
Jumlah kasus pernikahan dini di Indonesia mencapai 50 juta penduduk dengan
rata-rata usia perkawinan 19,1 tahun. Di Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Jambi,
dan Jawa Barat, angka kejadian pernikahan dini berturut-turut 39,4%, 35,5%,
30,6%, dan 36%. Bahkan di sejumlah pedesaan, pernikahan seringkali dilakukan
segera setelah anak perempuan mendapat haid pertama. Menikah di usia kurang
dari 18 tahun merupakan realita yang harus dihadapi sebagian anak di seluruh dunia,
terutama negara berkembang.

Meskipun Deklarasi Hak Asasi
Manusia di tahun 1954 secara secara eksplisit menentang pernikahan anak, namun
ironisnya, praktek  pernikahan dini masih
berlangsung di berbagai belahan dunia dan hal ini merefleksikan perlindungan
hak asasi kelompok usia muda yang terabaikan. Implementasi Undang-Undangpun
seringkali tidak efektif dan terpatahkan oleh adat istiadat serta tradisi yang
mengatur norma.

Jika melihat hasil survey diatas,
menunjukan bahwa pernikahan pada usia dibawah 18 tahun masih lazim terjadi di
daerah pedesaan, padahal menurut undang-undang perlindungan anak no. 23 2002
adalah sampai 18 tahun. dalam seminar tersebut juga dipaparkan bahwa hal ini
terjadi bukan hanya karena faktor perekonomian saja tetapi kurangnya informasi
dan minimnya pengetahuan masyarakat menjadi pemicu terjadinya permasalahan
tersebut. Oleh karena itu dengan adanya pembentukan RAPPI di Jawa Barat ini
diharapkan nantinya mampu menginformasikan kepada teman ataupun lingkungan
sebayanya khusunya sesama remaja mengenai resiko pernikahan dini dan yang
berkaitan dengan kesehatan ibu/remaja seperti yang sedang tren sekarang adalah tentang
kesehatan reproduksi dan HIV-AIDS.

Dalam seminar tersebut juga hadir
ibu Hj. Netty Prasetiyani Heryawan, M.Si selaku ketua penggerak PKK di Jawa Barat,
ibu dr. Sunitri Widodo Selaku Ketua APPI Jawa Barat dan Dr. Hj. Suryani
Soepardan, Dra., MM Selaku Ketua Pokja Kebidanan PTS Jawa Barat sekaligus
ketiga orang tersebut hadir juga sebagai pemateri dalam seminar tersebut.

Kemudian acara ditutup dengan
penandatanganan kerjasama pembentukan Remaja Aliansi Pita Putih (RAPPI) Jawa Barat
oleh Masing-masing institusi yang hadir dan disahkan langsung oleh ketua APPI
Jawa Barat dr. Sunitri Widodo.

SETELAH VAKUM, DI GAGAS KEMBALI PEMBENTUKAN RAPPI JAWA BARAT

Biografi Penulis

Achmad "Midas" Mundayat

Achmad "Midas" Mundayat

NIP
:
2.09.01.015
email
:
zibril_ahmed@yahoo.com

Berikan Komentar