IDUL ADHA MENJADIKAN KITA LEBIH YAKIN

IDUL ADHA MENJADIKAN KITA LEBIH YAKIN

IDUL ADHA MENJADIKAN KITA LEBIH YAKIN



Sekian abad
yang lalu, terjadi sebuah peristiwa yang sampai sekarang diingat dan bahkan
diabadikan dalam kitab suci Al Quran tentang ketaatan dua orang  hamba terhadap Rab-nya, bagaimana tidak demi
sebuah ketaatan dan keyakinan rela untuk berkorban meski harus nyawa yang
dikorbankan.

Nabi Ibrahim
AS. Beliau harus menyembelih anak semata wayang, anak yang sangat disayang. Namun
dengan asas iman, tulus ikhlas, taat dan patuh akan perintah Allah swt Nabi
Ibrahim AS akhirnya mengambil keputusan untuk 
menyembelih putra tercintanya Ismail, beliau memanggil putranya dengan
pangilan yang diabadikan dalam Al Quran Surat Ash Shaafaat (37) ayat 102,

“Maka tatkala
anak itu sampai pada umur sanggup berusaha bersama-sama Ibrahim , Ibrahim
berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku
menyembelihmu. Maka pikirlah apa pendapatmu?” “ Ia menjawab:” Hai bapakku,
kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; Insya Allah kamu akan  mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar “

Ismail
sebagai anak shaleh, senantiasa patuh kepada orang tua, tidak pernah membantah
perintah orang tua, setia membantu orang tua di antaranya membangun Ka’bah
Baitullah di Makkah.

Luar biasa,
meskipun pada akhirnya penyembelihan Ismail diganti dengan seekor domba oleh
Alloh SWT, namun setidaknya kisah ini mengajarkan kepada kita banyak hikmah dan
pelajaran, beberapa hikmahnya adalah :

1.       
Pondasi dari keimanan adalah keyakinan

Kisah ini mengajarkan tentang pentingnya keyakinan terhadap sang
Rab Alloh SWT, bahwa Alloh SWT tahu apa yang terbaik buat kita dan punya
rencana terbaik buat kita. Semua kejadian dan pengalaman baik pahit atau bahkan
menyakitkan sebetulnya itu terjadi karena ijin dari sang Khalik dan pasti ada
hikmah dan manfaatnya sehingga seyogyanya menjadikan kita lebih tabah dan lebih
baik lagi.

Orang yang yakin pada Alloh SWT tidak akan pernah putus asa,
marah, gelisah dan selalu meminta pertolongan pada sang Khalik (lewat Ibadah),
sehingga bagi pribadi yang yakin tidak akan pernah lari dari masalah, tapi
menghadapi masalah tersebut dengan bijak dan meminta bimbingan sang Rab sampai
tuntas

2.       
Pentingnya sebuah komunikasi dan menghargai pendapat

Nabiyulloh Ibrahim As dan Ismail As, mengajarkan kepada kita
tentang pentingnya diskusi dan menghargai pendapat serta semangat mencari
solusi. Ketika Ibrahim bermimpi beberapa kali tentang perintah menyembelih
Ismail, maka beliau menyampaikan kepada Ismail tentang hal tersebut, dan
meminta pendapat kepada Ismail. Ismail yang memang anak sholeh tanpa punya
prasangka buruk, menanggapi dengan sangat santun dan penuh keyakinan bahwa jika
itu adalah yakin perintah Alloh, maka laksanakan dan beliau siap jika haru
dikorbankan.

Terkadang kita terlalu sombong dan menganggap paling benar, sehingga
untuk  mendengar pendapat orang terlalu
sulit dan selalu menyalahkan orang.

Orang terbaik adalah orang yang selalu mengambil hikmah dibalik
kejadian, tidak pernah menyalahkan orang lain dan tidak menyalahkan keadaan.

3.       
Menjadi pribadi terbaik dan anak yang berbakti pada orang tua

Kisah Ibrahim dan Ismail sampai sekarang menjadi pelajaran
kehidupan. Mereka berdua mampu menjadi pridadi terbaik sehingga menjadi panutan
dan tuntunan bagi seluruh umat manusia (orang terbaik adalah orang yang member bukan
diberi). Jika melihat sosok Ismail, maka kita lihat sosok yang sangat taat
kepada orang tua.

Sekarang mari kita telaah diri, bahwa ternyata kita terlalu
terbawa ego sendiri sehingga banyak menuntut orang tua untuk memenuhi keinginan
kita, padahal belum tentu benar, kita tidak tahu apakah orang tua mampu atau
tidak. Seringkali secara tidak sadar kita membuat orang tua kecewa dan sedih
atau bahkan sakit hati (orang tua jarang yang mengekspresikan atau menyampaikan
rasa kecewa dan sedih atau bahkan sakit hati kepada anaknya karena takut
anaknya jadi sedih).

Ingatlah ridho Alloh adalah ridho orang tua, jika orang tua kecewa
dan sedih atau bahkan sakit hati, maka Alloh pun tidak akan memberikan rahmat
dan hidayahnya, bahkan akan memberikan azab kepada anak yang mengecewakan orang
tuanya.

4.       
Keyakinan melahirkan sebuah ketaatan

Itulah kira-kira gambaran ketaatan Ibrahim dan Ismail, ketika keyakinan
itu sudah mendarah daging maka apapun perintah Alloh akan dilaksanakan
(ketaatan).

Jadi, jika sekarang kita masih banyak alasan ketika beribadah
kepada Alloh SWT (baik yang wajib atau sunnah) maka mari kita pertanyakan
keyakinan kita kepada Alloh.

Dalam
kehidupan kampus, keyakinan kita untuk sukses dengan perantara menimba ilmu di kampus,
maka akan melahirkan ketaatan terhadap aturan dan tata tertib. Jika kita masih
banyak melanggar tata tertib dan aturan kampus tentunya kita harus
mempertanyakan niat dan tujuan serta keyakinan kita (tidak ada kampus dimanapun
yang tidak punya tujuan dan membuat mahasiswanya gagal)

Mudah-mudahan hari raya Idul Adha memberikan pelajaran kepada kita
sehingga menjadikan kita pribadi-pribadi terbaik yang mempunyai keyakinan yang
teguh dan kuat terhadak Rab-nya.

IDUL ADHA MENJADIKAN KITA LEBIH YAKIN

Biografi Penulis

Achmad "Midas" Mundayat

Achmad "Midas" Mundayat

NIP
:
2.09.01.015
email
:
zibril_ahmed@yahoo.com

Berikan Komentar